“Asyik… Mamih akan kemana kita pergi hari ini? ” Salah satu celoteh Jody.
“Makasih ya Papih… Jody sayang…. Banget sama Papih.” Sambil memeluk Papihnya pada waktu Papihnya membelikan mobil –mobilan sepulang bekerja.
Dan jika si Papih tidak menjawab atau sedang sibuk, lupa menanggapi perkataannya. Jody akan berkata “Papih.. dengerin Jody dong… Jody kan mau bicara sama Papih.” Ia akan menarik ujung baju Papihnya yang yang berada diatas kepalanya.
Terkadang ia berceloteh “Mamih… jangan dijawab dong.., Jody kan tanyanya sama Papih..”
Terkadang si Mamih akan tersenyum – senyum mendengar celotehnya. Anak ini jika menanggapi sesuatu selalu saja kata – kata yang belum pernah di ucapkan oleh anak seumurnya. Pernah suatu waktu si Mamih bertanya kepadanya pada waktu tante Yuli pamit pulang sehabis bermain bersama Jody..
“Dah Jody… ” Tante Yuli melambaikan tangannya.
Jody melambaikan tangannya sambil tertawa, selepas bayangan tante Yuli tidak terlihat. Jody berkata pada waktu itu, “Mamih.. tante Yuli baik ya….”
”Baik kenapa.. sayang?” Tanya Mamihnya.
“Iya, baik.. soalnya Tante Yuli panggil nama Jody…” Ia berkata dengan polosnya
“Jody sayang, siapa yang mengajari kamu bicara begitu?” Tanya Mamihnya sambil tersenyum.
“Engga ada Mamih…, Jody belajar sendiri” Jawab Jody suatu waktu.
*****************
Di suatu senja celoteh Jody tidak terdengar. Dari balik jendela kaca, angin bertiup kencang menerbangkan daun kering. Selimut ditarik rapat ke atas badan Jody oleh Papihnya. Sesekali dengkuran Jody terdengar, dan ia sedikit menggerakkan tubuhnya, ia seperti mengerti ada yang menyelemutinya.
“Papih ada di sini, nak. menjagamu.” Batin Papih Jody berbicara pada saat ia menyelimutinya.
“Ruangan ini terlalu dingin untukmu, nak. Bangunlah, nak kita pulang ke rumah kita yang hangat” Batin Papih kembali berbicara.
Tut.. tut.. hanya suara mesin pemantau jantung Jody berbunyi “Hanya itukah jawabmu nak…?” Papih bertanya sendiri.
Kembali Papih Jody membuka AlQuran membaca untuk menenangkan pikirannya dan memberikan kekuatan kepada Jody. Papih Jody tidak merasakan bahwa dirinya juga harus berada di ruangan umum untuk memulihkan luka –lukanya. Namun ia tak sanggup untuk berada diruangan itu dan memikirkan anak satu – satunya sedang berjuang melawan maut.
. Kembali perawat mengingatkannya untuk beristirahat di ruangannya pada suatu malam. Ia pun kembali dan berharap keesokan pagi telah melihat Jody dapat tersenyum dan melihatnya bahkan berceloteh “Jody sangat sayang …. sama Papih”
Namun, kembali di pekan ketiga. Papih Jody yang sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Kembali ia datang menemui ruangan bercat putih itu yang seakan membisu sama seperti keadaan Jody saat ini. Ia terbaring tidak berdaya selama ini dan ia terus menutup matanya. Nyawa Mamihnya tidak dapat tertolong sebab, Mamih Jody berada di belakang motor pada saaat kecelakaan maut itu terjadi.
Sore itu kondisi Jody memburuk perawat dan dokter sudah berada di dekatnya. Papih terus merapalkan tasbih, tahmid, tahlil dan membaca surat di dalam Al Qur’an. Terus… ia baca di samping tubuh Jody sampai akhirnya ia membaca pada surat Ar Rahman ia meneteskan air mata yang tak tertahan. Ia membaca ayat yang artinya “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.” Ya Allah hamba ikhlas apapun yang akan terjadi ya Allah. Sembuhkanlah anakku”.
Keajaiban terjadi. Jody menggerakkan tangannya dan perlahan membuka sedikit matanya dan bersuara lirih “Pap, piih…”
Namun, tak lama kemudian terdengar suara tut……. Panjang terdengar. Perawat yang berada di ruangan itu meminta Papih untuk meninggalkan ruangan dan Dokter yang berada di ruangan pun segera mencoba memompa jantung Jody namun nyawa Jody tak tertolong jua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar